marikemari.id - Pergerakan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali mencatatkan angka yang mengejutkan pasar keuangan domestik. Pada perdagangan Kamis pagi, mata uang indonesia untuk sementara menembus ambang batas yaitu Rp 18.000 per dolar AS.

Rupiah naik jadi 18 ribu per Dolar AS
Sumber : Ilustrasi
Kondisi ini memicu reaksi luas di kalangan pelaku pasar dan masyarakat, terutama di media sosial, di mana kekhawatiran terhadap daya beli dan stabilitas ekonomi menjadi sorotan utama.

Berdasarkan data yang dihimpun dari Investing.com pada Kamis (4/6/2026), dolar AS tercatat menguat sebesar 49,4 basis poin atau sekitar 0,28 persen, sehingga posisi rupiah berada di level Rp 18.015 per dolar AS. Sepanjang perdagangan pagi ini, rupiah bergerak dalam rentang Rp 17.937 hingga Rp 18.024.

Sementara itu, mengacu pada data Google Finance, dolar AS sempat menyentuh posisi Rp 18.010 pada pukul 23.23 UTC atau sekitar pukul 06.23 WIB. Kemudian, nilai tukar tersebut sedikit melandai ke level Rp 17.971 pada pukul 00.15 UTC (07.15 WIB). lalu naik kembali menjadi Rp.18.038 pada pukul 04:59 UTC atau sekitar pukul 11:59 WIB.

Kondisi pelemahan ini langsung menjadi perbincangan hangat di platform X (sebelumnya Twitter). Berdasarkan pantauan pada pukul 09.00 WIB, dua tagar yang paling dominan menjadi trending topic adalah 'Udah 18K' dan 'Rp 18.000'.

Dari unggahan-unggahan warganet, terpantau beragam ekspresi. Sebagian menyuarakan kekhawatiran terhadap kenaikan harga barang kebutuhan pokok. Sebagian lain meluapkan rasa kesal dan kecemasan terhadap masa depan investasi serta tabungan. Beberapa pengguna yang memiliki pemahaman di bidang ekonomi juga mencoba memberikan analisis singkat, sementara yang lain mendesak pemerintah dan bank sentral untuk segera mengambil langkah-langkah stabilisasi.

Faktor utama masih didominasi oleh kebijakan suku bunga acuan Bank Sentral AS (The Fed) yang tetap tinggi, serta ketegangan geopolitik global yang membuat investor lebih memilih dolar AS sebagai aset aman (safe haven). Di sisi internal, tingginya permintaan dolar untuk impor dan kebutuhan pembayaran utang luar negeri juga memberi tekanan pada rupiah.

Pertanyaan ini tentu menjadi yang paling sulit dijawab secara pasti, karena nilai tukar ditentukan oleh mekanisme pasar yang dinamis. Namun, sejumlah analis memproyeksikan bahwa ruang perbaikan rupiah akan terbuka lebar jika ada tiga sinyal utama:
  • Bank Indonesia (BI) secara agresif menaikkan suku bunga acuan untuk menarik aliran modal asing.
  • Bank Sentral AS mulai menurunkan suku bunga (diprediksi paling cepat akhir tahun 2026 atau awal 2027).
  • Neraca perdagangan Indonesia tetap surplus dan cadangan devisa terjaga di atas angka aman (minimal 90 miliar dolar AS).

Menghadapi situasi ini, beberapa pakar keuangan mengimbau masyarakat untuk tidak melakukan aksi panik, seperti membeli dolar AS secara besar-besaran karena berisiko memperlemah rupiah lebih lanjut. Sebaliknya, bagi yang tidak memiliki kebutuhan transaksi dalam dolar, disarankan untuk tetap berinvestasi pada aset produktif dalam negeri yang relatif terlindungi dari gejolak kurs.

Pemerintah melalui Kementerian Koordinator Bidang Perekonomian dan Bank Indonesia dipastikan akan terus melakukan intervensi pasar (market intervention) guna menjaga agar pelemahan rupiah tetap berada dalam koridor yang terkendali.